textilewiki.com – Harga bensin di Amerika Serikat mengalami lonjakan signifikan, menembus angka USD3 per galon untuk pertama kalinya sejak November 2025. Kenaikan ini bertepatan dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Israel yang terlibat konflik dengan Iran.
Kenaikan harga bahan bakar ini disebabkan oleh dampak balasan dari Teheran terhadap serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel, yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global. Serangan tersebut juga menghantam sejumlah fasilitas produksi di negara-negara tetangga dan kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur perniagaan utama dunia.
Seiring dengan itu, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 5% mencapai hampir USD77 per barel, yang mengakibatkan biaya bahan bakar ikut meningkat. Analis mencatat bahwa lonjakan harga ini menambah beban warga AS yang sudah menghadapi kenaikan biaya hidup sehari-hari.
Mark Malek, Kepala Investasi Siebert Financial, menjelaskan bahwa harga bensin memiliki dampak psikologis yang besar, menjadi salah satu indikator inflasi yang dirasakan langsung oleh konsumen. Kenaikan harga minyak mentah sebesar USD10 per barel diperkirakan dapat membuat harga bensin melonjak hingga 25 sen per galon di SPBU.
Data dari OPIS menunjukkan bahwa harga rata-rata bensin eceran telah melampaui USD3 per galon pada Senin, 2 Maret 2026. Tom Kloza, Penasihat Senior Gulf Oil, memprediksi bahwa harga bensin bisa mencapai USD3,25 per galon dalam waktu dekat akibat ketidakstabilan geopolitik saat ini. Kenaikan harga ini menjadi perhatian serius, mengingat dampaknya terhadap ekonomi masyarakat dan inflasi secara keseluruhan.