textilewiki.com – Kurs rupiah diprediksi menguat secara terbatas akibat data manufaktur Amerika Serikat yang menunjukkan hasil lebih lemah dari ekspektasi. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa Indeks Manufaktur Empire State AS terkontraksi pada angka minus 3,9, jauh di bawah perkiraan yang mencapai 10.
Menurut Leong, situasi ini menjadikan rupiah berpotensi berkonsolidasi meskipun masih mendapat tekanan dari dolar AS. Ia menambahkan bahwa para investor saat ini berada dalam fase “wait and see” sembari menunggu informasi lebih lanjut terkait data Non-Farm Payroll (NFP) AS yang dijadwalkan dirilis pada malam hari. NFP diproyeksikan hanya mampu menambah 25 ribu pekerjaan, jauh di bawah angka normal yang seharusnya di atas 100 ribu.
Di sisi lain, sentimen domestik juga menjadi perhatian, terutama menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Ada kekhawatiran di kalangan investor bahwa keputusan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga dapat menekan nilai tukar rupiah. Jika suku bunga diturunkan, hal ini berpotensi menyebabkan imbal hasil yang lebih rendah menjadi kurang menarik bagi investor.
Mengacu pada faktor tersebut, nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak dalam rentang Rp16.600 hingga Rp16.700 per dolar AS. Pada sesi pembukaan perdagangan di Jakarta, rupiah melemah enam poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.673 per dolar AS, dibandingkan dengan sebelumnya yang berada di angka Rp16.667 per dolar AS.