textilewiki.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan disebabkan oleh disiplin fiskal pemerintah yang terpengaruh oleh belanja yang ekspansif. Menurut analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, belanja tersebut lebih banyak dibiayai dengan utang pada saat minat asing terhadap obligasi negara menurun. Pada penutupan perdagangan Kamis sore, nilai tukar rupiah melemah sebesar 65 poin atau 0,02 persen, menjadi Rp16.749 per dolar AS.
Pada hari yang sama, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan, mencapai Rp16.752 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.680. Kepemilikan asing atas obligasi negara, yang dulunya mendekati 40 persen, kini turun di bawah 20 persen, sehingga Bank Indonesia harus mencari cara untuk menutupi kekurangan pembiayaan dengan menyerap obligasi negara. Kebijakan ini, lanjut Rully, berpotensi meningkatkan angka inflasi di Indonesia.
Lebih lanjut, Rully menyoroti rendahnya rasio pajak yang berada di bawah 10 persen, yang mayoritas bersumber dari pajak penghasilan dari industri pengolahan. Diperlukan percepatan proses industrialisasi untuk meningkatkan pendapatan pajak dari perusahaan serta sistem penggajian para pekerja, agar ketergantungan pembiayaan dari utang dapat dikurangi.
Pelemahan rupiah juga dipicu oleh pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang mengisyaratkan bahwa penurunan suku bunga AS akan terbatas, terkait dengan risiko inflasi akibat kebijakan tarif. Ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga ke depan semakin menambah tekanan pada nilai tukar rupiah, menciptakan tantangan lebih lanjut bagi perekonomian Indonesia.