textilewiki.com – Sarang burung walet telah menjadi komoditas unggulan yang bernilai tinggi di Indonesia. Produk yang terdiri dari air liur burung walet ini bertransformasi dari bahan pangan tradisional menjadi salah satu komoditas ekspor strategis, mengukuhkan Indonesia sebagai produsen terbesar di pasar global dengan menyuplai hingga 80 persen kebutuhan dunia, khususnya ke Tiongkok.
Sejarah sarang burung walet mencatat bahwa meskipun Tiongkok dikenal sebagai pengimpor sejak lama, asal usul komoditas ini berakar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa sarang ini pertama kali ditemukan oleh Admiral Zheng He dari Dinasti Ming pada abad ke-17, ketika armadanya terpaksa berlindung di gua-gua pesisir Malaysia. Saat itu, awak kapal mencoba sarang walet dan merasakan manfaatnya bagi kesehatan, sehingga komoditas ini pun mulai dikenal di kalangan bangsawan Tiongkok.
Tradisi pengambilan sarang walet di Indonesia tercatat dalam cerita rakyat, salah satunya kisah Kiai Surti dari Kerajaan Mataram Kartasura yang mencari obat bagi permaisuri. Proses panen sarang walet memerlukan keahlian khusus dan sering kali disertai ritual adat untuk keselamatan.
Perdagangan sarang walet di Indonesia dimulai sejak abad ke-15, dan semakin berkembang pada abad ke-17 ketika hubungan perdagangan dengan Tiongkok semakin erat. Saat ini, selain Tiongkok, pasar ekspor sarang walet juga meliputi Hong Kong, Vietnam, Amerika Serikat, dan Jepang. Ekspor sarang walet Indonesia tercatat mencapai 894,86 ton pada tahun 2025, menjadikannya sebagai komoditas unggulan yang memiliki berbagai manfaat kesehatan, termasuk memperkuat sistem imun dan merawat kulit. Dengan demikian, sarang burung walet tidak hanya menjadi kebanggaan Indonesia, tetapi juga simbol kekayaan budaya dan ekonomi negara.