textilewiki.com – Kompleksitas pelaksanaan transisi energi yang berkeadilan atau Just Energy Transition (JET) memerlukan sinergi lintas sektor. Hal ini disampaikan oleh Tenaga Ahli Menteri ESDM, Satya Hangga Yudha Widya Putra, dalam sebuah diskusi di Jakarta yang berlangsung pada Selasa. Ia menjelaskan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merupakan salah satu elemen dalam implementasi JET, yang melibatkan kolaborasi dengan berbagai kementerian lainnya.
Menurut Hangga, keberhasilan kegiatan besar seperti eksplorasi laut dan perizinan lahan membutuhkan koordinasi yang intensif antar instansi, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Diskusi tersebut juga menghadirkan narasumber lainnya, termasuk akademisi dan profesional dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Hangga menekankan pentingnya menjalankan JET dengan prinsip inklusif dan adil, mengingat bahwa bauran energi nasional Indonesia saat ini masih didominasi oleh energi fosil, mencapai 85 hingga 86 persen. Sementara, energi baru terbarukan (EBT) hanya berkontribusi 14 hingga 15 persen. Ia menjelaskan bahwa salah satu fokus utama pemerintah adalah menjaga aksesibilitas dan keterjangkauan harga energi.
Lebih lanjut, Hangga mengungkapkan bahwa tujuan dari JET tidak hanya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga untuk mengatasi defisit anggaran subsidi energi yang cukup besar setiap tahunnya. Dalam peta jalan menuju nol emisi pada 2060, pemerintah merencanakan penambahan kapasitas EBT yang signifikan berdasarkan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN, termasuk penambahan kapasitas energi surya, angin, dan panas bumi.
Dengan demikian, transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan menjadi langkah penting yang memerlukan kerjasama seluruh pihak terkait untuk mencapai keberlanjutan.