textilewiki.com – Peralihan dari mesin diesel ke energi listrik pada usaha penggilingan padi di Jorong Batu Palano, Nagari Salayo, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menjadi sorotan utama. Transisi ini tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya tetapi juga mendukung program swasembada pangan di daerah tersebut.
Yon Harmen, pemilik penggilingan padi, memulai usahanya lima tahun lalu dengan menggunakan mesin diesel yang sering menghadapi kendala kelangkaan dan tingginya biaya solar. Dalam sebulan, ia harus mengeluarkan sekitar Rp6,6 juta hanya untuk biaya bahan bakar, yang mengakibatkan tekanan finansial bagi usaha kecilnya.
Pada tahun 2023, Yon mengambil keputusan berani untuk beralih ke energi listrik. Ia menyambangi PLN setempat untuk mengetahui biaya instalasi yang diperlukan, di mana total biaya mencapai Rp44 juta untuk pemasangan sistem baru dengan daya 41.500 Volt Ampere. Keputusan ini berbuah manis; biaya operasional menurun drastis. Dengan menggunakan token listrik, Yon kini hanya mengeluarkan sekitar Rp4 juta per bulan untuk operasional selama 20 hari kerja.
Peralihan ini menunjukkan bahwa penggunaan energi terbarukan tidak hanya mendukung program net zero emission, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani di lingkungan sekitar. Keberadaan mesin huler listrik ini menjadi model bagi petani lainnya dalam menerapkan teknologi ramah lingkungan.
Dengan penghematan yang signifikan, Yon Harmen mengajak petani lain untuk mengikuti jejaknya, menggarisbawahi pentingnya inovasi dalam pertanian demi keberlanjutan dan efisiensi. Ini adalah contoh nyata bagaimana teknologi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan secara bersamaan.