textilewiki.com – Produsen otomotif Jerman, BMW, mengumumkan bahwa peningkatan tarif impor dari Amerika Serikat (AS) telah memberikan dampak negatif signifikan terhadap bisnisnya. Pernyataan ini disampaikan pada Rabu (5/11), setelah Volkswagen dan Mercedes-Benz juga melaporkan tekanan serupa terhadap profitabilitas mereka akibat hambatan perdagangan.
Dalam laporan kuartalan, BMW mencatat penurunan laba operasional sebesar 16,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 8,06 miliar euro (sekitar Rp19.216 per euro) untuk sembilan bulan pertama tahun 2025. Meski penurunannya tidak seberat paruh pertama tahun ini yang mencapai 26,8 persen, pemulihan pada kuartal ketiga membantu mengurangi kerugian.
Pengiriman global BMW mengalami peningkatan sebesar 2,4 persen dari Januari hingga September, didorong oleh permintaan kendaraan listrik yang kuat. Namun, pendapatan perusahaan turun 5,6 persen menjadi sekitar 100 miliar euro dengan laba bersih anjlok menjadi 5,7 miliar euro. Walter Mertl, anggota Dewan Manajemen BMW, menyatakan bahwa tarif impor memotong margin EBIT sekitar 1,75 poin persentase pada kuartal ketiga dan mereka memperkirakan hambatan tarif mencapai 1,5 poin persentase untuk seluruh tahun ini.
Penyebab utama dari masalah ini adalah peningkatan tarif impor mobil dari Uni Eropa yang ditetapkan oleh pemerintah AS sebesar 25 persen pada awal April lalu. Meskipun ada kesepakatan untuk menurunkan tarif menjadi 15 persen pada akhir Juli, Asosiasi Industri Otomotif Jerman mengungkapkan bahwa tarif baru tersebut masih dapat membebani industri dalam jangka panjang.
Sejumlah produsen otomotif besar lainnya di Jerman juga mengalami penurunan laba. Volkswagen mencatat laba operasional sebesar 5,4 miliar euro, turun 58 persen, sementara Mercedes-Benz melaporkan laba bersih sebesar 3,88 miliar euro, setengah dari tahun sebelumnya. Kebijakan tarif AS menjadi salah satu faktor yang menyebabkan ketidakpastian dalam prospek bisnis mereka.