textilewiki.com – Nilai tukar kurs rupiah diperkirakan akan melemah terbatas akibat tekanan sentimen domestik dari aksi demonstrasi. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa meskipun terdapat tekanan tersebut, rupiah berpotensi berkonsolidasi dengan kisaran nilai Rp16.350 hingga Rp16.500 per dolar AS.
Pada Selasa, di Jakarta, Lukman menuturkan bahwa meskipun situasi demonstrasi telah mulai terkendali, sentimen pasar domestik masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Sementara itu, nilai dolar AS juga dihadapkan pada potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve di Amerika Serikat, yang diprediksi akan terjadi setelah mempertahankan suku bunga selama sembilan bulan terakhir.
Federal Reserve diperkirakan memiliki peluang sebesar 87 persen untuk mengurangi suku bunga acuan menjadi antara 4,25 dan 4 persen. Hal ini berpotensi memengaruhi kebijakan bank sentral di seluruh dunia mengingat ketidakpastian dalam tarif bunga saat ini. Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), pejabat The Fed mengisyaratkan bahaya inflasi yang dapat meningkat akibat kebijakan perdagangan proteksionis.
Dengan kondisi tersebut, investor di pasar keuangan memilih untuk bersikap “wait and see” menunggu rilis data ekonomi penting, seperti Purchasing Managers’ Index (PMI) dan Non-Farm Payrolls (NFP) dari AS, yang diyakini akan memberikan panduan bagi arah kebijakan ke depan.
Pada pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp16.426 per dolar AS, mengalami pelemahan sebesar 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan dengan sebelumnya. Kejadian ini menandakan bahwa pasar masih memperhatikan perkembangan ekonomi dan situasi domestik secara seksama.