textilewiki.com – Proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan potensi pergerakan mendatar dengan kecenderungan menguat tipis pada pekan depan. Opini ini disampaikan oleh pengamat pasar modal Reydi Octa, yang mengungkapkan bahwa kondisi ini terjadi karena pasar belum sepenuhnya keluar dari fase konsolidasi akibat sentimen global dan domestik yang masih berfluktuasi.
Reydi menjelaskan bahwa investor saat ini cenderung menunggu katalis baru sebelum mengambil langkah lebih lanjut, sehingga IHSG mungkin tidak akan bergerak drastis dalam waktu dekat. “Range pergerakan diperkirakan terbatas sambil menunggu arahan lebih jelas,” tutur Reydi saat dihubungi di Jakarta, Minggu.
Dari sisi internasional, arah suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat, pergerakan yield US Treasury, serta dinamika geopolitik dan harga komoditas akan mempengaruhi sentimen pasar. Reydi optimis bahwa positifnya penguatan bursa global dan meredanya ketegangan geopolitik dapat memberikan dorongan bagi IHSG.
Dalam konteks domestik, perhatian investor akan tertuju pada respons mereka terhadap isu MSCI dan kepercayaan terhadap pasar saham Indonesia. Faktor lain yang ikut menentukan antara lain adalah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, perkembangan rating lembaga penyedia indeks global, serta data inflasi dan nilai tukar rupiah. Reydi menekankan bahwa kombinasi dari faktor-faktor ini akan menentukan stabilitas arus modal asing ke pasar domestik.
Sebagai catatan, pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/4), IHSG mengalami penguatan sebesar 150,91 poin atau sekitar 2,07 persen, berada di posisi 7.458,50. Sebanyak 485 saham menguat, sedangkan 181 saham mengalami penurunan, dan 153 saham tidak bergerak.